Cerpen “Kematian yang Tak Terungkap”

7 Sep

Gambar

“Kematian yang Tak Terungkap”

 

“Hei, kau pecundang lawan aku!” kata sosok musuh Dika yang menghadangnya dengan sebilah kayu beserta teman-temannya

“Mengapa engkau membenciku dan menggangguku? Apakah salahku yang telah kuperbuat pada kalian?” kata Dika pada musuhnya itu.

            Karena musuh musuh Dika begitu benci akibat ulahnya ribut dikelas seketika itu juga musuh Dika mengajak teman-temannya yang bersama dengan musuh Dika. Lalu tanpa tanya lagi, mereka langsung mengeroyok Dika dengan beberapa orang sekaligus.

            “Aduh, tolong…!” seru Dika dengan histerisnya.

            “Diam, kau! Sambil memukulnya keras

Karena begitu kerasnya seruan Dika disaat dipukul oleh orang-orang yang membenci Dika. Maka gerombolan orang itu semakin memukulnya dengan keras menggunakan sebilah kayu baseball pada kepalanya. Sehingga Dika mengalami pendarahan yang amat serius pada kepalanya.

            “Watuh, bisa kwalat kita dihajar masa kalau ketahuan, nih! kata teman yang bersama musuh Dika

            “Kamu sih terlalu kuat, jadinya beginikan ujungnya” kata teman musuh Dika yang lain

            “Ya sudah, kita sekarang bukannya malah jadi bertengkar”. Ayo cabut ! ajak musuh Dika pada teman-temannya

Ditengah kompleks yang sepi itu, setelah Dika itu terluka parah dan sekarat. Maka musuh Dika dan orang-orangnya meninggalkan Dika untuk kabur menyelamatkan diri. Kemudian Dika seketika itu juga sulit tuk berkata-kata, matanya mulai berkunang-kunang akibat pukulan yang keras pada kepalanya yang diterima.

            “Tolong…!” tegas Dika dengan suara yang memaksa”

            “Tolong…!” sahutan Dika sekali lagi minta tolong

Lalu iapun berusaha merayap kearah jalan kecil dekat selokan. Laki-laki itu sadar melihat darahnya sendiri mengalir di selokan yang akhirnya hampir tidak mengalir lagi. Rasa sakitnya kini semakin menyiksa tetapi ia tidak memedulikannya. Dia merasa melayang terus melewati lorong kecil yang akhirnya melihat langit yang menyilaukan. Ia heran sekali saat merasa dirinya dapat terbang bersama awan putih yang melayang-layang dan berputar-putar di angkasa. Kini, ia dapat menaiki awan dan terbak kemana saja ia ia kehendaki.

            Meskipun jalan ini merupakan jalan kecil yang jarang tuk dilewati oleh orang-orang. Akan tetapi, tanpa disengaja secara kebetulan lewatlah seorang kakek yang melewati jalan itu hanya untuk kesenangan semata. Kakek itu berjalan kaki sepanjang jalan kecil itu, ketika ia melihat pinggir jalan itu ia melihat tetesan darah yang tersapu  hingga selokan.

            “Waduh, ini darah, ya? Pikirnya dalam hati.

Ia bertanya-tanya dalam dirinya tentang apa yang telah terjadi di areal ini. Sejenak hatinya bimbang dan takut , lalu ia memberanikan dirinya kearah sudut jalan dekat selokat. Ia melihat sosok pemuda tergeletak dekat selokan jalan telungkup dengan kondisi tak bernyawa berlumuran darah pada tubuhnya terlebih pada kepalanya.

            “Astaga, ya Tuhan!” seru kakek itu saat melihat Dika tergeletak tak bernyawa.

Kakek itu lalu berlari mendapatkan Dika lalu merangkulnya. Orang tua itu merinding melihat peristiwa mengerikan yang ia lihat pada sosok pemuda yang tak bernyawa itu. Sungguh suatu peristiwa yang mampu membuat jantungnya menggebu pada usia tuanya.

“Siapa yang tega melakukan hal ini padamu, nak?” ucap sang kakek dalam hati.

Namun apalah daya Dika telah menhirup nafas terakhirnya yang terdalam sehingga matanya tertidur pulas untuk selama-lamanya. Kakek itu sungguh sangat merasa iba pada sosok pemuda pelajar itu yang ia temukan. Karena kakek berjiwa besar ia mencari alamat pemuda itu dalam tas itu sebab kakek tidak mengenal pemuda itu. Areal yang sunyi ini sulit tuk meminta tolong pada penduduk karena tempatnya yang sepi nan jauh dari perkampungan penduduk tinggal sehingga mustahil tuk memanggil orang tuk meminta tolong dari areal itu. Tiba-tiba tanpa disangka

            “Tolong…!”, “Tolong…!” “Disini ada pembunuh pak RT!” Kata seseorang di areal jalan kecil itu.

            “Bukan, bukan!” Kata sang kakek terbatah-batah sambil menoleh kiri kanannya.

Segeralah pak RT datang.

            “Siapa kau? Dan kenapa engkau membunuhnya? Tanya pak RT yang kebetulan bukan kakek kenal.

            “Ampun…, pak”, saya bukan pembunuh saya orang-orang baik. Saya menemukan bocah ini disini dan saya hendak menolong anak ini”. Tegasnya dengan jelas.

            “Bohong…kamu!” kata pak Pendi semakin menuduh sang kakek.

            “Cukup, pak”. Kita tidak boleh menuduh sembarangan saja lagi pula bapak ini tidak membawa barang yang mencurigakan dan bentuknya ia tidak bersalah. Kata pak RT pada pak Pendi menjelaskan.

`           “Betul, pak! Kata sang kakek membela dirinya. Apabila bapak tidak percaya saya siap untuk bapak bawa ke kantor polisi. Kata sang kakek membela dirinya lagi.

            “Sudahlah tidak perlu apabila bapak adalah tersangka tidak mungkin bapak menyerahkan diri bapak ke kantor polisi”.

Setelah Kakek menemukan kartu tanda pelajar pemuda itu.

Rupanya anak ini tinggal di dekat sini!” ucap sang kakek dalam hati dengan hati yang cemas. Lalu diantarnyalah Dika oleh sang kakek kerumah Dika bersama pak RT dan pak Pendi. Tapi apa daya orang Dika kali ini tidak menyambut Dika dengan bahagia melainkan orang tua Dika menyambut Dika dengan isak tangis dan air mata melihat jenazah Dika mati dengan tidak wajar sampai dirumah.

            “Mengapa anakku engkau mati mengenaskan seperti ini? Kata ibu Dika dengan sangat pilu disertai tagisnya yang tak henti-henti

Suasana pilu itu semakin berkecambuk saat kakek tidak tahu tentang sebab kematian Dika. Maka orang tua Dika terpaksa mengikhlaskan Dika meninggal dengan cara yang tragis. Setelah sang kakek dimintai keterangan dari kantor polisi. Lalu kakek dan orang tua Dika langsung menguburkannya bersama keluarga sore itu juga karena yang berwajib tidak dapat melacak tersangka pembunuhan sang bocah yakni, Dika. Akan tetapi, sang berwajib terus akan terus melacak siapa orang yang tega melakukan perkara ini pada pemuda ini yakni, Dika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: