“Orang Samaria yang Murah Hati” Dari Lukas 10:25-37

7 Sep
Gambar 
“Orang Samaria yang Murah Hati”
 Dari Lukas 10:25-37
 
 
 
Lewatlah seorang pemuda yang turun dari Yerusalem ke Yerikho, tiba-tiba dua orang penyamun menghadang pemuda itu yang satu di depan dan yang lain ada di belakang pemuda itu.
 
Pemuda                       : Siapa kalian, dan mau apa kalian daripadaku!” (tegas pemuda itu dengan ketakutan)
Penyamun                   : Kami perampok yang ingin memerasmu. Serahkan uang dan segala yang berharga yang kau punya kepada kami!” (tegas salah satu penyamun dengan nada yang kasar dan tak sopan)
Pemuda                       : (maka makin takutlah pemuda itu pada para penyamun itu lalu ia menjawab) saya tidak punya apa-apa, tuan!”,kasihanilah saya!
                                    (sambil berlutut meminta belas kasihan daripada para penyamun)
Penyamun                   : Bohoong..! (suaranya yang semakin keras dan kemudian dua orang penyamun itu menghajar pemuda itu tanpa belas kasihan hingga pemuda itu hampir mati. Lalu penyamun itu merampas apa yang berharga yang dimiliki pemuda itu seketika itu ia telah sekarat).
                          
            Lalu hanya beberapa saat kemudian, lewatlah seorang imam melewati jalan itu tempat pemuda itu terbaring tak sadarkan diri dengan luka yang sangat parah. Akan tetapi imam itu hanya melihat pemuda itu saja, tapi ia tidak peduli, lalu pergi. Kemudian lewat pula orang Lewi dari jalan itu juga, tapi orang itu hanya melihatnya, lalu pergi tanpa menolongnya. Terakhir, lewatlah seorang Samaria yang kebetulan juga melewati jalan itu tempat pemuda itu terbaring sekarat. Maka seketika itu pula tumbuhlah belas kasihan orang Samaria itu dibenaknya ketika ia menemukan pemuda itu lalu menghampirinya.
 
Orang Samaria            : Sungguh kasihan orang ini.( bisiknya dalam hati dengan penuh iba).Baiklah kiranya aku mengobatinya dengan minyak dan membungkusnya, lalu membawanya kepenginapan.(kata seorang Samaria itu sambil mengobatinya. Dan setelah itu, ia menaikkan pemuda itu ke atas keledainya hendak membawanya ke penginapan)
 
……….Sesampainya mereka di penginapan, seorang Samaria itu lalu berkata:
 
Orang Samaria            : Pak, bolehkah kami menginap disini untuk merawat pemuda ini?”. Tolonglah, pak!” dia butuh peristirahatan dan perawatan segera.(tegas orang Samaria memohon)
Pemilik Penginapan     : Tentu saja pak, disini masih banyak kamar untuk tempat bapak menginap dan membaringkan saudara bapak yang sedang sakit ini.(balas pemilik penginapan dengan ramah)
 
Setelah itu, menginaplah mereka disana. Keesokan harinya, menjelang orang Samaria itu meninggalkan penginapan itu, berkatalah seorang Samaria itu pada pemilik penginapan
 
Orang samaria             : Pak, ini biaya buat penginapan kami dan perawatannya selama ia sakit dan apabila uang ini tidak cukup nantinya buat kebutuhan pemuda itu, kiranya penuhilah kebutuhannya. Nanti, aku akan menggantinya pada saat aku akan kembali kemari untuk membawa pemuda itu.
Pemilik Penginapan     : Tentu, pak!”. Kami akan merawatnya disini hingga ia sembuh nantinya. Bapak tidak perlu khawatir tentang pemuda itu. Di saat bapak akan kembali kemari, ia akan baik-baik saja (tegas pemilik penginapan dengan nada yang ramah dan meyakinkan).
Orang samaria             : Terima kasih banyak, pak”. Permisi(lalu pamitlah orang Samaria itu).

Cerpen “Kematian yang Tak Terungkap”

7 Sep

Gambar

“Kematian yang Tak Terungkap”

 

“Hei, kau pecundang lawan aku!” kata sosok musuh Dika yang menghadangnya dengan sebilah kayu beserta teman-temannya

“Mengapa engkau membenciku dan menggangguku? Apakah salahku yang telah kuperbuat pada kalian?” kata Dika pada musuhnya itu.

            Karena musuh musuh Dika begitu benci akibat ulahnya ribut dikelas seketika itu juga musuh Dika mengajak teman-temannya yang bersama dengan musuh Dika. Lalu tanpa tanya lagi, mereka langsung mengeroyok Dika dengan beberapa orang sekaligus.

            “Aduh, tolong…!” seru Dika dengan histerisnya.

            “Diam, kau! Sambil memukulnya keras

Karena begitu kerasnya seruan Dika disaat dipukul oleh orang-orang yang membenci Dika. Maka gerombolan orang itu semakin memukulnya dengan keras menggunakan sebilah kayu baseball pada kepalanya. Sehingga Dika mengalami pendarahan yang amat serius pada kepalanya.

            “Watuh, bisa kwalat kita dihajar masa kalau ketahuan, nih! kata teman yang bersama musuh Dika

            “Kamu sih terlalu kuat, jadinya beginikan ujungnya” kata teman musuh Dika yang lain

            “Ya sudah, kita sekarang bukannya malah jadi bertengkar”. Ayo cabut ! ajak musuh Dika pada teman-temannya

Ditengah kompleks yang sepi itu, setelah Dika itu terluka parah dan sekarat. Maka musuh Dika dan orang-orangnya meninggalkan Dika untuk kabur menyelamatkan diri. Kemudian Dika seketika itu juga sulit tuk berkata-kata, matanya mulai berkunang-kunang akibat pukulan yang keras pada kepalanya yang diterima.

            “Tolong…!” tegas Dika dengan suara yang memaksa”

            “Tolong…!” sahutan Dika sekali lagi minta tolong

Lalu iapun berusaha merayap kearah jalan kecil dekat selokan. Laki-laki itu sadar melihat darahnya sendiri mengalir di selokan yang akhirnya hampir tidak mengalir lagi. Rasa sakitnya kini semakin menyiksa tetapi ia tidak memedulikannya. Dia merasa melayang terus melewati lorong kecil yang akhirnya melihat langit yang menyilaukan. Ia heran sekali saat merasa dirinya dapat terbang bersama awan putih yang melayang-layang dan berputar-putar di angkasa. Kini, ia dapat menaiki awan dan terbak kemana saja ia ia kehendaki.

            Meskipun jalan ini merupakan jalan kecil yang jarang tuk dilewati oleh orang-orang. Akan tetapi, tanpa disengaja secara kebetulan lewatlah seorang kakek yang melewati jalan itu hanya untuk kesenangan semata. Kakek itu berjalan kaki sepanjang jalan kecil itu, ketika ia melihat pinggir jalan itu ia melihat tetesan darah yang tersapu  hingga selokan.

            “Waduh, ini darah, ya? Pikirnya dalam hati.

Ia bertanya-tanya dalam dirinya tentang apa yang telah terjadi di areal ini. Sejenak hatinya bimbang dan takut , lalu ia memberanikan dirinya kearah sudut jalan dekat selokat. Ia melihat sosok pemuda tergeletak dekat selokan jalan telungkup dengan kondisi tak bernyawa berlumuran darah pada tubuhnya terlebih pada kepalanya.

            “Astaga, ya Tuhan!” seru kakek itu saat melihat Dika tergeletak tak bernyawa.

Kakek itu lalu berlari mendapatkan Dika lalu merangkulnya. Orang tua itu merinding melihat peristiwa mengerikan yang ia lihat pada sosok pemuda yang tak bernyawa itu. Sungguh suatu peristiwa yang mampu membuat jantungnya menggebu pada usia tuanya.

“Siapa yang tega melakukan hal ini padamu, nak?” ucap sang kakek dalam hati.

Namun apalah daya Dika telah menhirup nafas terakhirnya yang terdalam sehingga matanya tertidur pulas untuk selama-lamanya. Kakek itu sungguh sangat merasa iba pada sosok pemuda pelajar itu yang ia temukan. Karena kakek berjiwa besar ia mencari alamat pemuda itu dalam tas itu sebab kakek tidak mengenal pemuda itu. Areal yang sunyi ini sulit tuk meminta tolong pada penduduk karena tempatnya yang sepi nan jauh dari perkampungan penduduk tinggal sehingga mustahil tuk memanggil orang tuk meminta tolong dari areal itu. Tiba-tiba tanpa disangka

            “Tolong…!”, “Tolong…!” “Disini ada pembunuh pak RT!” Kata seseorang di areal jalan kecil itu.

            “Bukan, bukan!” Kata sang kakek terbatah-batah sambil menoleh kiri kanannya.

Segeralah pak RT datang.

            “Siapa kau? Dan kenapa engkau membunuhnya? Tanya pak RT yang kebetulan bukan kakek kenal.

            “Ampun…, pak”, saya bukan pembunuh saya orang-orang baik. Saya menemukan bocah ini disini dan saya hendak menolong anak ini”. Tegasnya dengan jelas.

            “Bohong…kamu!” kata pak Pendi semakin menuduh sang kakek.

            “Cukup, pak”. Kita tidak boleh menuduh sembarangan saja lagi pula bapak ini tidak membawa barang yang mencurigakan dan bentuknya ia tidak bersalah. Kata pak RT pada pak Pendi menjelaskan.

`           “Betul, pak! Kata sang kakek membela dirinya. Apabila bapak tidak percaya saya siap untuk bapak bawa ke kantor polisi. Kata sang kakek membela dirinya lagi.

            “Sudahlah tidak perlu apabila bapak adalah tersangka tidak mungkin bapak menyerahkan diri bapak ke kantor polisi”.

Setelah Kakek menemukan kartu tanda pelajar pemuda itu.

Rupanya anak ini tinggal di dekat sini!” ucap sang kakek dalam hati dengan hati yang cemas. Lalu diantarnyalah Dika oleh sang kakek kerumah Dika bersama pak RT dan pak Pendi. Tapi apa daya orang Dika kali ini tidak menyambut Dika dengan bahagia melainkan orang tua Dika menyambut Dika dengan isak tangis dan air mata melihat jenazah Dika mati dengan tidak wajar sampai dirumah.

            “Mengapa anakku engkau mati mengenaskan seperti ini? Kata ibu Dika dengan sangat pilu disertai tagisnya yang tak henti-henti

Suasana pilu itu semakin berkecambuk saat kakek tidak tahu tentang sebab kematian Dika. Maka orang tua Dika terpaksa mengikhlaskan Dika meninggal dengan cara yang tragis. Setelah sang kakek dimintai keterangan dari kantor polisi. Lalu kakek dan orang tua Dika langsung menguburkannya bersama keluarga sore itu juga karena yang berwajib tidak dapat melacak tersangka pembunuhan sang bocah yakni, Dika. Akan tetapi, sang berwajib terus akan terus melacak siapa orang yang tega melakukan perkara ini pada pemuda ini yakni, Dika.